Menikahi seseorang
Premis 1: Setiap orang tidaklah mengetahui apakah beriman atau tidak beriman
Premis 2: Nasib istri tergantung dari nasib suami
Kondisi 1: Suami dinyatakan termasuk orang beriman
Kondisi 2: Istri belum teridentifikasi termasuk beriman atau tidak
Kesimpulan: -
Hipotesis 1: Perempuan manapun yang akan dijadikan istri akan menjadi ikut beriman. Hal itu terjadi karena suami telah dinyatakan beriman sehingga istri pun akan menjadi beriman juga karena nasib istri mengikuti suami. Jadi, istri siapa pun yang akan dijadikan istri tidaklah menjadi masalah.
Hipotesis 2: Istri yang tidak beriman hanya akan mengganggu dan menyusahkan. Nasib istri memang tergantung suami, apabila suami termasuk beriman dan masuk surga maka istri pun juga akan begitu. Namun hal tersebut tidak berlaku selama di dunia. Suami yang telah dinyatakan beriman tidak serta merta membuat istri menjadi beriman saat di dunia. Selain itu, orang yang telah dinyatakan beriman pun masih dapat berubah menjadi tidak beriman. Jadi, harus menikahi istri yang juga beriman agar tidak malah menjerumuskan ke dalam neraka.
Hipotesis manakah yang benar serta bisa dijadikan kesimpulan dan mana hipotesis yang sesat pikir? Boleh menambahkan jawaban lain yang lebih komprehensif.
Premis 2: Nasib istri tergantung dari nasib suami
Kondisi 1: Suami dinyatakan termasuk orang beriman
Kondisi 2: Istri belum teridentifikasi termasuk beriman atau tidak
Kesimpulan: -
Hipotesis 1: Perempuan manapun yang akan dijadikan istri akan menjadi ikut beriman. Hal itu terjadi karena suami telah dinyatakan beriman sehingga istri pun akan menjadi beriman juga karena nasib istri mengikuti suami. Jadi, istri siapa pun yang akan dijadikan istri tidaklah menjadi masalah.
Hipotesis 2: Istri yang tidak beriman hanya akan mengganggu dan menyusahkan. Nasib istri memang tergantung suami, apabila suami termasuk beriman dan masuk surga maka istri pun juga akan begitu. Namun hal tersebut tidak berlaku selama di dunia. Suami yang telah dinyatakan beriman tidak serta merta membuat istri menjadi beriman saat di dunia. Selain itu, orang yang telah dinyatakan beriman pun masih dapat berubah menjadi tidak beriman. Jadi, harus menikahi istri yang juga beriman agar tidak malah menjerumuskan ke dalam neraka.
Hipotesis manakah yang benar serta bisa dijadikan kesimpulan dan mana hipotesis yang sesat pikir? Boleh menambahkan jawaban lain yang lebih komprehensif.

Komentar
Bagaimana menghindari dari sikap "tergesa-gesa" dalam memilih istri? Bisa saja orang tersebut adalah jodoh kita dan kita tidak ingin melewatkannya.
Apakah berarti istri yang memang jodoh kita tidak akan pernah menjadi musuh? Bukankah istri akan selalu jadi musuh saat dirinya dipengaruhi oleh setan tanpa melihat istri tersebut jodohnya atau tidak? Kalau memang hanya istri yg bukan jodoh yg akan menjadi musuh, apakah berarti belum pernah ada yang bertemu jodoh? Bahkan istri nabi-nabi menjadi cobaan (musuh) nabi-nabi tersebut.
a) Jodoh telah ditetapkan oleh Allah sebelum manusia itu dilahirkan agar hidup bepasang-pasangan sehingga akan
dapat berkembang biak sampai ke anak dan cucunya yaitu dalam hal di antara jiwa - jiwa mereka maka daripada
keadaan itu sebenar masing-masing jiwa dari sejak awal telah mengetahui siapa-siapa jodohnya tersebut yang
akan melakukan daya tarik menarik antara jiwa yang telah dijodohkan sesuai dengan ketentuan, rencana, rida
dan keputusan dari Allah yang pasti akan bertemu dengan pasangannya itu dan hanya yang mau menggunakan
qalbu yang akan dapat mengetahui siapa jodohnya dengan memohon kepada Allah agar ditunjukkan jodoh yang
sebenarnya sedangkan yang menggunakan hawa nafsu pikirannya akan salah dalam menentukan jodohnya.
Tetapi bisa juga terjadi seandainya ternyata salah ketika dalam memilih takdir yang telah dijodohkannya sedang
mereka adalah orang-orang yang termasuk beriman maka Allah akan "menggantikan" jiwa - jiwa mereka sesuai
dengan yang telah dipasang-pasangkan karena jodoh bagi kaum laki-laki ada lebih dari satu orang ingat kaum
wanita itu telah diciptakan dari tulang rusuk suaminya yang jumlahnya lebih dari satu.
b) Dengan cara memohon kepada Allah agar Allah rida memberikan Ilham ketakwaan sehingga dapat mengetahui
siapa jodohnya yang telah disiapkan oleh Allah lebih dari satu orang tersebut yaitu jiwa dari sisi Allah dengan jiwa
dari sisi Allah pula pasangannya yang tentunya akan sama-sama beriman demikian pula untuk jiwa yang dari sisi
manusia akan memiliki pasangan dari jiwa yang dari sisi manusia pula maka Allah senang dengan orang sabar.
c) Sedangkan Jiwa yang telah dipasang-pasangkan oleh Allah tersebut tidak akan pernah menjadikannya sebagai
"musuh" tetapi jiwa-jiwa itu akan menjadi bodoh saat ketika manusia belum meninggal atau datang ajalnya yang
akan menjadi mengerti dan pintar setelah mati maka itulah yang disebut permainan dan senda gurau dari Allah.
Berbeda dengan yang dimaksudkan musuh manusia yang untuk tujuan menggoda dan menyesatkan yaitu setan
yang berupa jin dan manusia tersebut yang merupakan raga ataupun fisik daripada manusia yang telah dapat
dikuasai oleh setan-setan yang telah dijadikan musuh-musuh yang nyata termasuk bagi para nabi ingat bahwa
telah dibedakan oleh Allah antara manusia (raga) dan hati itu.
Semoga pembahasan dan penjelasan singkat ini dapat bermanfaat.
Salam Tj.